“Peletakan batu pertama hari ini adalah tanda dimulainya pekerjaan bersama. Pembangunan butuh kebersamaan, kesabaran, dan pengorbanan. Jika ada perbedaan pendapat, selesaikanlah melalui musyawarah. Mari kita sepakat untuk membangun dan sepakat untuk menyelesaikan bersama,” tegasnya.
Dalam kesempatan yang sama, perwakilan jemaat, Aprianus Mamun, menyampaikan suara hati jemaat mengenai sejarah dan latar belakang pembangunan gedung baru tersebut. Ia menceritakan bahwa jemaat telah melewati berbagai ujian berat, termasuk bencana tanah longsor pada tahun 1997 yang merusak fasilitas gereja.
“Gedung yang kami gunakan saat ini dindingnya sudah tidak memadai. Karena itu, pada tahun 2026 ini, seluruh jemaat bersepakat untuk membangun gedung kebaktian baru yang lebih layak dan aman,” jelas Aprianus.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Ia juga menyampaikan terima kasih atas hadirnya pemerintah daerah, pimpinan gereja, dan seluruh pihak yang memberi perhatian nyata bagi pertumbuhan iman di Taninri’in–Tunbaun.
Turut hadir Ketua Majelis Sinode GMIT: Pdt. Samuel Pandie, S.Th.
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya

Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe













