Situasi ini kian menjepit posisi petani. Meski mengetahui harga tersebut sangat merugikan dan jauh di bawah standar jaring pengaman pemerintah (Bulog), para petani mengaku tidak memiliki pilihan lain selain melepaskan hasil peluh mereka ke tangan tengkulak.
Faktor kebutuhan ekonomi yang mendesak menjadi alasan utama. Saat ini merupakan musim pendaftaran sekolah baru dan pergantian jenjang bagi anak-anak petani yang akan melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi (kuliah). Karena satu-satunya tumpuan harapan penghasilan ada pada komoditas beras, mereka terpaksa menerima harga murah tersebut demi masa depan pendidikan anak-anak mereka.
Menyikapi kondisi yang mencekik ini, para petani di Kecamatan Sulamu melayangkan harapan besar kepada Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Pemerintah Kabupaten Kupang untuk segera turun tangan memberikan perhatian serius.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Selain intervensi kebijakan harga dan optimalisasi penyerapan oleh Bulog, petani juga meminta adanya tindakan tegas dari pihak kepolisian.
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya

Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe











