Peristiwa ini, bagi Yuven, mengingatkan akan pentingnya mengevaluasi tata kelola laut di Nusa Tenggara Timur. “Selama beberapa tahun terakhir, wilayah pesisir dan laut di provinsi ini semakin terbuka bagi berbagai aktivitas ekonomi yang berorientasi pada ekstraksi sumber daya, mulai dari eksploitasi perikanan skala besar hingga berbagai proyek pembangunan di wilayah pesisir.
Tanpa pengawasan ekologis yang ketat, tekanan terhadap ekosistem laut dapat meningkat dan berpotensi mengganggu keseimbangan habitat berbagai spesies, termasuk mamalia laut.
Atas hal tersebut, Yuvensius Nonga (Walhi NTT) mendesak pemerintah pusat dan pemerintah daerah untuk segera melakukan investigasi ilmiah secara menyeluruh terhadap penyebab peristiwa terdamparnya Paus Pilot di Rote Ndao.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Investigasi ini harus melibatkan peneliti independen, lembaga akademik, serta organisasi masyarakat sipil agar hasilnya transparan dan dapat dipertanggungjawabkan kepada public”.
Wahi NTT juga menilai bahwa peristiwa ini menunjukkan pentingnya memperkuat sistem respon cepat terhadap mamalia laut terdampar di wilayah NTT. Provinsi yang memiliki wilayah laut sangat luas seperti NTT, kata Yuven seharusnya memiliki mekanisme yang terkoordinasi dengan baik antara pemerintah, peneliti, organisasi masyarakat sipil, dan masyarakat pesisir dalam menangani kejadian-kejadian seperti ini.
Halaman : 1 2 3 4 Selanjutnya

Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe












