Kupang_Haluantimur.com_Praktik dugaan monopoli dan pemerasan terhadap petani kecil kembali mencuat di wilayah Fatuleu Barat. Bantuan alat mesin pertanian (alsintan) berupa combine harvester yang seharusnya meringankan beban petani, kini dikeluhkan karena diduga disalahgunakan oleh oknum pengusaha untuk menekan harga gabah jauh di bawah standar pemerintah.
Seorang petani di Fatuleu Barat yang meminta identitasnya dirahasiakan mengungkapkan bahwa alat bantuan pemerintah tersebut saat ini dikuasai oleh oknum pengusaha berinisial (U)
Bukannya membantu, kehadiran alat ini justru mencekik leher petani dengan aturan main yang sepihak.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Menurut sumber tersebut, petani dipaksa menjual hasil panennya hanya seharga Rp5.000 per kilogram jika ingin menggunakan jasa combine harvester tersebut. Padahal, standar harga yang ditetapkan pemerintah jauh di atas itu.
”Harga kering panen minimal dari pemerintah itu Rp6.500. Kalau kering giling bisa Rp7.000 sampai Rp7.300. Tapi di sini, mereka pakai alat bantuan itu untuk tekan kami supaya harga di bawah standar,” ungkapnya dengan nada kecewa, Selasa (28/04/2026) malam.
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya



Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe









