Selain jagung kualitas utama, masyarakat juga memanfaatkan hasil sampingan berupa jagung kualitas bawah (afkir) sebanyak 150 ton yang dijual ke pasar lokal untuk pakan ternak. Angka ini diprediksi akan terus bertambah mengingat proses panen di tingkat petani masih berlangsung.
Program “Wajib Berkebun” yang dicanangkan Pemerintah Desa Pantulan mewajibkan setiap pemuda di atas 17 tahun untuk mengelola minimal setengah hektar lahan. Hasilnya, pendapatan per kepala keluarga (KK) meningkat drastis.
”Dulu ekonomi masyarakat sangat sulit. Sekarang, dalam masa kerja hanya tiga bulan, rata-rata masyarakat mendapat hasil paling rendah Rp10 juta. Bahkan, ada warga kami, Bapak Yunus Agustinus Loi, yang berhasil memanen 18 ton dengan pendapatan mencapai Rp180 juta,” jelasnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Peningkatan pendapatan ini berdampak langsung pada kualitas hidup warga. Buce menyebutkan bahwa kini masyarakat Desa Pantulan sudah mampu membiayai sekolah anak hingga jenjang yang lebih tinggi, membeli kendaraan operasional (motor), serta memenuhi kebutuhan rumah tangga dengan layak.
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya

Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe












