Ia juga menyoroti penggunaan teknologi seperti ponsel pintar yang kerap membuat seseorang lupa akan orang di sekitarnya. Menurutnya, tubuh manusia diciptakan untuk melakukan karya-karya nyata yang memberkati sesama, bukan untuk hal-hal yang merusak persekutuan.
Mengambil refleksi dari arti kata “Ekklesia”, Pdt. Samuel menjelaskan bahwa gereja sejati berakar dari tradisi Yunani kuno, di mana terdapat konsep “panggung bema”—sebuah tempat di mana pemerintah kota menerima semua masukan dari berbagai kalangan masyarakat tanpa memandang status sosial, baik pribumi, tuan tanah, pendatang, orang asing, maupun prapemuka agama.
Bagi Pdt. Samuel, konsep Ekklesia mengajarkan bahwa gereja harus berdiri sama rendah dan sama tinggi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
”Hanya dengan yang sederajat itulah, maka kita bisa berjalan kepada terang Tuhan,” tegasnya.
Pdt. Samuel juga membagikan pengalamannya ketika melayani di berbagai desa. Ia menceritakan bagaimana dalam sebuah kunjungan pelayanan, rencana awal untuk mengunjungi 33 KK berubah karena kenyataannya terdapat jemaat di desa-desa lain yang berdampak dan membutuhkan perhatian lebih.
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya

Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe












