Sementara itu, Project Coordinator Program GENRE Save the Children, Ken Djami, menjelaskan bahwa ‘hackathon’ dalam konteks ini bukanlah sekadar menciptakan hal baru, melainkan modifikasi, penyelarasan, dan inovasi terhadap materi pembelajaran bencana dan perubahan iklim yang sudah ada.
“Materi yang dikembangkan guru selama dua hari telah diuji-cobakan di sekolah, melibatkan pendapat anak-anak. Setelah melalui perbaikan, materi ini dipresentasikan dan dilombakan hari ini,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa kompetisi ini tidak hanya dinilai oleh juri, tetapi juga melibatkan suara anak-anak sebagai bentuk partisipasi bermakna. Materi terbaik akan dijadikan ‘role model’ bagi sekolah pesisir, namun materi lainnya tetap dapat digunakan sesuai kebutuhan sekolah masing-masing.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Ken Djami juga menegaskan bahwa inovasi seperti ini sejalan dengan kewajiban pemerintah daerah yang setiap tahun harus menghadirkan terobosan baru, termasuk inovasi sektor pendidikan.
Kompetisi ‘Climate Ed-Hackathon’ diharapkan menjadi ruang kolaborasi bagi guru, ilustrator, komunikator sains, serta pemangku kepentingan lokal untuk menghadirkan materi pembelajaran yang kreatif, adaptif, inklusif, dan berbasis realitas pesisir..(cheril/pupe)

Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe











